Pupuk Organik vs Pupuk Anorganik, Apa Bedanya? - Naina Indonesia

Pupuk Organik vs Pupuk Anorganik, Apa Bedanya?

Pupuk Organik vs Pupuk Anorganik, Apa Bedanya?

 



Bagi orang yang suka merawat tanaman atau berkebun, pupuk tentu bukanlah hal yang asing. Pupuk digunakan untuk membantu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Namun, pupuk sendiri memiliki berbagai jenis. Dua jenis yang paling sering dibahas dan digunakan adalah pupuk organik dan pupuk anirganik.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan dari keduanya? Apakah pupuk organik selalu lebih baik dibandingkan dengan pupuk anorganik? 

Apa itu pupuk organik?

Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari bahan-bahan organik, seperti sisa tanaman, serasah, kotoran hewan, kompos, atau bahan organik lainnya yang telah mengalami proses pengolahan tertentu.

Contoh pupuk organik yang cukup mudah ditemukan adalah kompos dan pupuk kandang. Ada juga pupuk organik dalam bentuk cair yang dibuat dari bahan organik tertentu. Pupuk cair ini biasa disebut sebagai POC (Pupuk Organik Cair).

Tergantung bahannya, pupuk organik bisa dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

  1. Pupuk kandang: berasal dari kotoran hewan ternak seperti sapi, kambing, atau ayam
  2. Pupuk kompos: berasal dari pelapukan sampah organik rumah tangga atau daun kering (Serasah) yang kaya akan humus. Contohn sampah organik rumah tangga yang bisa dijadikan pupuk adalah cangkang telur 
  3. Pupuk hijau: berasal dari bagian tanaman seperti daun dan batang kacang-kacangan yang kaya akan zat nitrogen
  4. Pupuk Organik Cair (POC): pupuk berbentuk cairan hasil fermentasi yang mudah diserap akar
  5. Pupuk Guano: Pupuk organik yang berasal dari kotoran kelelawar yang mengendap di dalam gua.
Selain menyediakan unsur hara, penambahan bahan organik ke tanah juga dapat membantu meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan mendukung kondisi tanah yang lebih baik.

Apa itu pupuk anorganik? 

Berbeda dengan pupuk organik, pupuk anorganik terbuat dari bahan atau senyawa yang memiliki kandungan unsur hara tertentu. Pupuk jenis ini umumnya memiliki kandungan unsur hara yang lebih tinggi dan spesifik.

Secara garis besar, pupuk anorganik bisa dibagi menjadi 2 kategori, yaitu pupuk tunggal yang hanya mengandung satu unsur hara makro, dan pupuk majemuk yang mengandung beberapa unsur hara sekaligus.

Contoh dari pupuk majemuk adalah pupuk NPK 16-16-16 yang mengandung tiga unsur hara makro secara seimbang (Nitrogen 16%, Fosfor 16%, Kalium 16%). Contoh lain dari pupuk majemuk adalah pupuk gandasil D dan B yang dikhususkan untuk memacu pertumbuhan tunas dan daun baru (Gandasil D) serta untuk merangsang pembungaan dan pembuahan (Gandasil B).

Untuk pupuk tunggal, contoh yang beredar di masyarakat adalah pupuk urea berisi Nitrogen dengan kadar tinggi hingga 46%, pupuk KCl yang berisi kalium dengan konsentrasi 60%, dan pupuk SP-36 atau TSP yang berisi fosfor. 

Karena kandungan haranya diketahui secara jelas, pupuk anorganik dapat digunakan ketika tanaman membutuhkan unsur hara tertentu dalam jumlah yang besar.

Lalu, apa perbedaan keduanya?

Secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dilihat dari asal bahan, kandungan hara, dan penggunaannya

Perbedaan Pupuk Organik Pupuk Anorganik
Asal Dari bahan organik Dari senyawa atau sumber mineral tertentu
Kandungan hara Lebih beragam dengan konsentrasi yang rendah Fokus ke unsur tertentu saja dengan konsentrasi hara yang tinggi dan terukur pasti
Pelepasan hara Bekerja secara lambat (slow release) karena harus diurai terlebih dahulu oleh tanah, tetapi efeknya bertahan lama Bekerja secara cepat (fast release) karena langsung diserap, tetapi efeknya singkat
Dampak terhadap tanah Membuat tanah menjadi gembur, subur, mengikat air, dan menyuburkan mikroorganisme tanah Merusak tanah jika dipakai secara terus-menerus, membuat tanah menjadi keras, asam, dan membunuh mikroorganisme alami
Risiko kelebihan dosis Aman, tanaman jarang layu atau mati jika diberi terlalu banyak Sangat rawan, tanaman bisa layu atau mati jika kelebihan dosis
Volume penggunaan Butuh jumlah yang sangan banyak untuk mencukupi kebutuhan tanaman Butuh jumlah yang cukup sedikit karena nutrisinya sudah pekat (konsentrasinya tinggi)

Jadi, harus pilih yang mana?

Jawabannya tergantung kebutuhan.

Jika tujuannya adalah memperbaiki kualitas tanah, menyiapkan media tanam baru, dan merawat tanaman jangka panjang, maka pupuk organik bisa digunakan. Akan tetapi, jika tujuannya adalah mengejar kecepatan pertumbuhan dan memberikan pertolongan darurat pada tanaman yang kurus/kuning, maka pupuk anorganik bisa digunakan. 

Yang paling penting bukan sekadar memilih organik atau anorganik, tetapi memahami apa yang dibutuhkan tanaman dan bagaimana pupuk tersebut digunakan dengan tepat. 

Bahkan, kedua jenis pupuk tersebut dapat digunakan secara bergantian. Jadi, tidak ada aturan pakem yang mengharuskan penggunaan 1 jenis pupuk pada 1 tanaman.

Semoga artikel ini membantu meningkatkan pemahaman Anda mengenai perbedaan pupuk organik dan anorganik.

Jika Anda sedang mencari pupuk untuk tanaman, berikut beberapa produk yang dapat menjadi pilihan:

🌱 Pupuk organik 
POC tanaman buah dan sayur : https://s.shopee.co.id/2VrrcgwrIC
Pupuk Kandang dari Kambing : https://s.shopee.co.id/4Vcw0WUE11

🧪 Pupuk anorganik 
Pupuk Gandasil B dan D : https://s.shopee.co.id/30o8E4O8TZ
Please write your comments